Penjelasan Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW. Ustadz Adi Hidayat
Maulid adalah
waktu kelahiran sedangkan Maulud adalah bayi yang dilahirkan, nah kalo Maulid Nabi berarti waktu Nabi dilahirkan sedangkan Maulud Nabi berarti Nabinya yang
lahir.
Apa hukum Maulid?
Maulid gak ada hukumnya, bagaimana kita bisa meletakkan hukum pada waktu
lahirnya Nabi? Lahir yaa lahir.. Kelahiran seseorang itu gak ada hukumnya,
hukum itu terletak pada perbuatan seseorang bukan pada kelahiran seseorang.
Ketika dia berbuat dengan aspek kesadarannya maka muncul hukum disitu.
Hukum terletak
pada perbuatan bukan terletak pada benda dan bukan terletak pada waktu, jadi
ketika ada perbuatan melekat pada benda dan waktu itu maka muncul hukum. Yang
melekat hukum itu bagaimana menyikapi hari kelahiran itu? Poinnya!! Jadi, kalau
anda menolak Maulid dan menolak Maulud dengan pengertian seperti ini maka anda
keluar dari Islam kalau dengan hukum seperti ini. Jikalau anda dimaksudkan
dengan kata Maulud dan Maulid anda tidak bisa menentangnya. Kenapa? Karena
dalam pengertian bahasa Maulid itu artinya waktu kelahiran, Maulud artinya
Nabinya.
Bagaimana
menyikapi Maulid dan Maulud itu? Masya Allah, Q.S. Yunus ayat 57-58. Gembira
bahagia silahkan atas Maulid dan Maulud. Bagaimana mengekspresikan kegembiraan
itu? Maka contoh-contoh dari Nabi Shallahu 'Alaihi Wassalam, bagaimana
mengekspresikan kegembiraan-kegembiraan dengan Nabi Shallahu 'Alaihi Wassalam
itu? Pertama, Nabi sendiri menyikapi hari kelahirannya dengan berpuasa dihari
senin, jadi bagi Nabi sendiri pribadinya. Nanti jadi hukum untuk kita.
Ketika Nabi
berpuasa dihari senin ditanya "Ya Rasulullah, kenapa engkau puasa?"
kata Nabi "Ini adalah hari aku dilahirkan." Jadi, ini hukum kelahiran
kalau antum misalnya masuk pada hari senin dilahirkan boleh ikuti Sunnah Nabi
SAW. yaitu puasa. Ketika antum puasa bukan hanya Sunnah tapi ada nilai disitu,
kalau hari lahirnya antum bertepatan dengan hari yang tidak diperkenankan puasa
seperti jum'at misalnya, hari kita bahagia maka para Ulama ambil hikmah dari
nilai puasa itu, puasa itu dua hikmahnya. Pertama, meningkatkan ibadah yang
baik. Kedua, mencegah maksiat.
Makanya kalau
datang hari kelahiran sebetulnya yang paling tepat kalau bertepatan dengan
waktu Sunnah puasa, maka puasa. Senin misalnya, Tapi kalau tidak bertepatan
dengan waktu itu, hikmah puasa yang diambil. Koreksi diri sampai dengan hari
kelahiran itu berapa banyak ibadah sudah dikumpulkan? berapa banyak maksiat
yang harus ditangisi? Itu hikmah terbesarnya,
Bagaimana para
Shahabat menyikapi kelahiran Nabi? kedatangan Nabi? Dan menyikapi keberadaan
Nabi SAW? Bukan cuma lahirnya tapi setiap kedatangannya, Nabi datang dari
Mekkah ke Madinah disambut oleh para Shahabat yang ada disana, Nabi datang dari
perang tabuk disambut oleh para Shahabat yang ada disana. Disambut dengan madid
bukti kesenangan mereka kepada Nabi SAW.
Ada yang
memuji Nabi SAW. Seperti Hasan bin Tabit buat puisi-puisi memuji Nabi, seperti
Juhair bin Abi Salma tadinya musuh Nabi begitu masuk Islam memuji Nabi SAW.,
ada yang lagi kemudian menghormati Nabi dengan kedatangannya dengan mengikuti
Nabi kemanapun, Nabi mencontohkan, diamalkan. Nabi mengajarkan, diikuti. Masya
Allah begitu Nabi meninggal diabadikanlah kemudian nilai-nilai penghormatan
itu, ada yang menulis sejarah tentang Nabi, ada yang menulis pujian kepada Nabi
dalam bentuk shalawat, ada yang menulis amalan-amalan Nabi, ada yang menulis
tentang pengajaran-pengajaran Nabi dikumpulkan dan disampaikanlah itu kemudian
kepada kita semuanya dan itulah cara terbaik tentang menyikapi Maulid dan
Maulud.
Apa cara terbaiknya?
Keluarkan
ayat-ayat Qur’annya. Q.S. 33 ayat 21 “Sungguh ada pada diri Nabi SAW. Suri
tauladan terbaik untuk kita”
Selalu ada
momentum untuk mengajak kita mengingat sesuatu, apa yang terbaik dihadirkan
ketika ada momentum itu maka para Ulama kemudian mencoba untuk menampilkan
nilai-nilai tadi untuk mengembalikan kita pada tuntunan Nabi SAW. Disampaikan
untuk mengenal Nabi Muhammad SAW. Mumpung kita ingat disampaikanlah
pengajaran-pengajaran tentang Nabi, disampaikanlah pujian-pujian shalawat
kepada Nabi. Kalau yang dimaksudkan tentang nilai-nilai ini maka dari dulu
sudah ada dan yang sudah ada ini tidak dibatasi dengan waktu bukan muncul
Rabi’ul Awal saja. Jadi, Maulid itu tidak dibatasi dengan waktu setiap waktu
itu Maulid, Maulud tidak dibatasi dengan waktu setiap waktu itu Maulud tapi
kalau ada momentum bersamaan dengan waktu kelahirannya kemudian kita hidupkan
untuk mengenal kepada Nabi dalam bentuk yang tadi disunnahkan dalam Al-Qur’an
dan Sunnah itu tidak masalah, yang ada masalah itu ketika menghadirkan hal-hal
yang bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi SAW. Misal dulu orang sudah
terbiasa mengkaji tentang Nabi, menyampaikan risalah Nabi kemudian diisi
misalnya (MAAF) dengan hal-hal yang bertentangan dengan keadaan Nabi misal saya
ingin mengajarakan tentang Nabi tapi ketika mengajarkan tiba-tiba mengatakan
‘pada saat ini Nabi pun datang bergabung bersama kita’, itu yang tidak kita
sepakati. Misal yang kedua antum kerja di Instansi, bertepatan dengan Maulid Nabi
kita adakan peringatan padahal antuk cuma ingin mengeluarkan anggaran saja dari
situ, itu bid’ah mengeluarkan anggaran sekedar hanya ingin dapat anggaran dalam
momentum Maulid Nabi itu bid’ah.
Maulid bukan
makan-makan jadi kalau mengadakan Maulid Nabi hanya sekedar untuk makan-makan
itu yang bid’ah, tapi kalau ingin belajar menghadirkan momentum itu untuk
mengisi ta’did sama saja dengan ta’lim kita sekarang. Apakah ada hadist Nabi
mengatakan ta’lim khusus hari ahad jam 8 pagi sampai jam 10? Tidak ada!!
Dita’lim kita ini bid’ah, jadi kalau antum pahami setiap yang tidak ada
contohnya itu bid’ah. Masya Allah maka aka nada banyak bid’ah dalam kehidupan,
mushaf itu bid’ah karena gak ada contoh di zaman Nabi SAW., antum dari ujung
kepala sampai ujung kaki itu bid’ah karena antum tidak ada di zaman Nabi SAW.,
jadi jangan langsung menilai bahwa setiap Maulid itu bid’ah.. BUKAN!!
Kalau momentum
itu ingin diisi dengan ta’lim ingin memperkenalkan Nabi, ingin mengajarkan
syari’at-syari’at Islam maka itu tidak ada masalah, itu mengamalkan
petunjuk-petunjuk ayat bukan mengkhususkan diwaktu itu karena ta’lim itu dibuka
disetiap waktu tapi menjadikan waktu itu untuk momentum, karena setiap orang
sedang ingat Nabi pada saat itu kapan lagi kita mendapati orang ingat Nabi,
maka ajarkan itu dan pesankan pada saat itu “Teman-teman jangn cuma waktu ini
yaa.. Setiap waktu kita amalkn ingatan kita kepada Nabi SAW.” Ketika kita
terangkan kita sampaikan. Masya Allah mereka mulai shalat dengan baik masjidnya
mulai ramai, besoknya tidak ada ramai-ramai lagi begitu ada Maulid ceramah lagi
ternyata ceramahnya gak sampai Maulid lagi, besoknya ceramah lagi, ahadnya ada
waktu ta’lim. Dan itulah cara terbaik untuk memberikan penjelasan kepada
masyarakat untuk mencintai Rasulullah Shallahu ‘Alaihi Wassalam.
Seperti Maulid
menyikapi dengan ta’lim macam-macam gak ada nas aslinya tapi qarinahnya
ditemukan sama-saama ta’lim, sama-sama meminta untuk ikut ajaran, sama-sama
mengingat tentang Nabi SAW. Maka semua hukum itu kita terapkan maka jadilah
hokum terapan dalam kehidupan kita dan itu tidak disebut dengan bid’ah.